Cerita sejarah "Akan ada Dukacita dan Sukacita"
Akan
ada Dukacita dan Sukacita
Karya
: Vlacida Dhango Christeva
Siang
hari ini, seperti biasanya seorang pria remaja yang berada di asrama khususnya
yang terletak di Nyarumkop sedang melakukan kegiatan sehari-harinya seperti doa
pagi, sarapan, sekolah, membantu bruder
dan suster, mengerjakan tugas sekolah dan lainnya. Yaa pria itu bernama Arga,
tepatnya Kristofer Argantara seorang pria yang sedang bersekolah di
persekolahan katolik bahkan siap mengikuti pendidikan sebagai pastor yang bisa
dibilang orang-orang yang jauh lebih dekat dengan Tuhan dan siap meninggalkan
segala yang ada di duniawi seperti harta, nafsu birahi, kesombongan, kenakalan
dan hanya untuk Tuhan. Namun itu semua akan sia-sia jika orang tua tidak
menyetujui nya, bahkan jika kita merasa yakin sekali pun maka oleh karena
itulah Arga pun meminta izin kepada sang ibu untuk mengizinkan ia agar boleh
menjadi pastor.
Saat
libur sekolah dan Arga pulang kampung ia menggunakan kesempatan itu untuk
bertanya kepada ibu nya.
"Ma Arga boleh jadi
pastor kan?"
"Hah kamu mau jadi
pastor?"
"Iya ma"
"Gak!! Gak!!
pokoknya mama gak mau ya, mama tuh masih belum siap kalo kamu jadi pastor
apalagi mama masih pengen gendong cucu dari kamu"
"Tapi ma Arga udah
siap hati dan pikiran buat jadi pastor"
"Pokoknya mama tetap
gak mau."
Arga
pun menghela nafas dan pergi ke arah kamar nya Sesampainya di kamar Arga pun
hanya baring uring-uringan dan memainkan handphone nya. Ia mulai mengirim pesan
kepada temannya dan menanyakan posisi teman-temannya lalu mereka pergi
nongkrong di sebuah cafe.
Setelah
beberapa hari kemudian, Arga dan
temannya yaitu Riki yang kebetulan adalah anak desa sebelah akan kembali
bersama ke asrama mereka, ia mengenal Riki sudah semenjak masuk ke asrama dan
sekarang ini mereka sudah berada di kelas 12.
Singkat cerita mereka pun telah sampai di asrama dan mulai melakukan aktivitas-aktivitas mereka seperti biasanya. Setelah beberapa bulan mengikuti pelajaran dan ujian seperti biasa tak terasa mereka pun akhirnya lulus dari SMA nya, karena Arga yang sudah pasti tidak bisa menjadi pastor maka ia akan pulang ke kampung halaman nya tepatnya di desa senakin bersama dengan Riki, karena rumah Riki berada di desa sebelah yaitu desa Pahuman maka mereka akan sampai duluan di rumah Riki. Arga dan Riki yg juga sudah berteman cukup lama maka ketika mereka sampai di rumah Riki, Arga pun ikut untuk sekedar singgah sebentar.
Tiba
lah mereka di rumah Riki, Arga dan Riki serta beberapa teman mereka yang juga
satu kampung dan pulang bersama pun duduk serta berbincang-bincang di ruang
tamu sambil mengistirahatkan tubuh mereka yang pegal akibat perjalanan yang
cukup panjang dari sekolah dan asrama mereka.
Di
tengah perbincangan mereka datanglah seorang wanita muda yang meletakkan
baberapa gelas teh untuk para tamu yang ada, Arga yang baru pertama kali
melihatnya cukup takjub akan kecantikan wanita itu lalu setelah mengantarkan
minuman itu wanita itu pergi kembali ke dapur bersamaan dengan menebar senyum.
"Silahkan diminum
yaa semuanya"
"Siapa tuh ki?"
Tanya Arga kepada Riki
"Adik aku yang
paling bungsu namanya Dara, kenapa?"
"Pasti Arga suka
nih" jawab Tagas
"Cantik ya ki
hehehe"
"Minta dikenalin nih
critanya?"
"Boleh deh ki"
jawab Arga sambil tersenyum Lalu mereka semua tertawa sambil mengganggu Arga.
Percakapan
itu hanya berhenti sampai disitu, Arga, Tagas, Bima, dan Karol pun melanjutkan
perjalanan mereka untuk pulang ke rumah masing-masing, dan karena rumah mereka
juga mempunyai jarak yang cukup jauh sehingga mereka tidak bisa terlalu lama
untuk berada di rumah Riki.
Wanita
muda tadi adalah Kyara Dara Ayu yang kerab dipanggil Dara. Dara adalah adik
bungsu dari Riki yang baru saja naik ke kelas 3 SMA dan jarak umurnya dengan
Riki berbeda cukup dekat yaitu hanya 1 tahun yang membuatnya cukup dekat dengan
Riki bahkan sudah seperti teman seumuran, tetapi karena Dara adalah anak
perempuan maka orang tua mereka menyekolahkan Dara di daerah mereka saja.
Selama
libur kelulusan Arga, Riki, Tagas, Bima dan Karol masih sering berhubungan
melalui telepon, mereka juga coba mencari dan mendaftar di universitas yang
sama, dan mereka sudah meyakinkan hati untuk berkuliah di luar kota lagi, dan
kota itu biasa dikenal dengan kota Pendidikan atau Yogyakarta. Arga dan Riki
berada di kampus yang sama yaitu STPMD.APMD dan yang lainnya berada di kampus
yang berbeda-beda seperti di UGM, STIPRAM dan UKDW. Meskipun mereka semua tidak
berada di 1 kampus yang sama namun mereka berada pada 1 kos yang sama sehingga
tidak memutuskan tali pertemanan mereka.
Waktu
demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun pun terganti
kini lima sekawan itu telah menyelesaikan pendidikannya dan berhasil meraih
gelar sarjana. Pergi Bersama maka pulang pun harus bersama, mereka kembali ke
tanah Kalimantan dan pulang ke rumah masing-masing. Karena sudah selesai dalam
Pendidikan mereka juga mulai mencari pekerjaan sehingga mau tidak mau membuat
komunikasi mereka tidak sesering waktu masih sekolah, namun karena kampus dan
jurusan yang diambil oleh Arga dan Riki sama maka mereka jadi masih sering
berkomunikasi yang dimana membahas tentang masa depan dan pekerjaan.
Siang
hari itu Arga pergi ke rumah Riki untuk bertemu Riki dan abangnya, dan setelah
sekian lama tidak bertemu Dara waktu itulah pertama kali nya Arga bertemu Dara
dengan keadaan yang sudah sama-sama dewasa, Arga lagi-lagi terpukau melihat
kecantikkan Dara, dan dia mulai meminta tolong kepada Riki untuk mengenalkannya
kepada Dara.
Dan
yaa ternyata ia berhasil berkenalan dengan Dara bahkan berhasil mendapatkan
nomor Dara waktu itu seakan menjadi hari terbahagia bagi Arga dan juga Dara
karena ternyata Dara juga telah lama menyimpan perasaan kepada Arga.
Tak
lama kemudian hubungan keduanya semakin dekat yang terlihat dari resminya
hubungan mereka ke pacarana dan seringnya Arga datang menghampiri Dara di
rumahnya namun itu terjadi ketika libur saja karena mereka juga tergolong ke
pasangan yang berhubungan jarak jauh dikarenakan Dara yang masih kuliah di
Universitas Tanjung Pura Pontianak.
Bulan
April 2003 Arga dan Dara sudah resmi berpacaran, hubungan keduanya berjalan
dengan lancar seperti Arga yang mulai bekerja dan Dara yang sudah ada di
semester akhir. Namun terjadi suatu peristiwa dimana saat itu Dara yang sedang
berada di Jakarta karena ada kegiatan dari organisasi mahasiswa disuruh pulang
ke Kalimantan secara tiba-tiba, dan karena kegiatannya memang sudah selesai
maka ia bisa langsung pulang ke Kalimantan.
Setiba
nya ia di Kalimantan ia langsung menuju ke kampungnya dan setelah sampai ia
cukup kaget mengapa ramai sekali orang di depan rumahnya, meskipun ia sudah
tahu bahwa ada yang tidak beres namun ia tetap berpikir positif. Lalu Dara
masuk ke rumahnya dengan tergesa-gesa dan betapa terkejutnya ia, sosok ayah
yang paling menyayanginya, memanjakannya, dan cinta pertama nya sudah terbaring
kaku yang dikelilingi oleh ibu dan kakak-kakaknya. Dara yang paling di manja
oleh ayahnya karena anak bungsu pun merasakan sakit hati yang luar biasa, ia
mulai menangis dengan histeris sambil mengatakan kata-kata yang menyuruh
ayahnya untuk bangun, ia terlalu kaget akan hal yang setiba-tiba ini.
Dara
lah yang mengalami trauma berat atas kepergian ayahnya ini karena disaat ia
dimarah oleh ibunya maka ayahnya lah yang akan membelanya, namun kini
pahlawannya telah hilang, setelah menangis dengan histeris Dara mulai tertawa
dan menangis, ya Dara kesurupan akibat tubuhnya yang lemah dan kesedihan yang
terlalu dalam membuat dirinya menjadi mudah di rasukki oleh makhluk-mahkluk
gaib bahkan setelah di sadarkan Dara menjadi pingsan.
Sebelum
nya ia masih berkomunikasi dengan ayahnya melalui telepon namun siapa sangka
ketika perjalanan menuju ke pasar ayah nya mengalami kecelakaan yang
menyebabkan kepala nya pecah, dan orang yang menabrak nya kabur begitu saja,
tapi setelah seminnggu berlalu orang itu kembali dan menyerahkan dirinya pada
keluarga mungkin ia merasa bersalah.
Berkali-kali Dara pingsan, ia juga tidak mau makan dan minum selama masa berduka itu. Ia benar-benar seperti tidak ada semangat untuk hidup lagi, karena dirinya yang terlalu larut dalam kesedihan itu dan ia yang tidak makan maupun minum membuat Dara menjadi jatuh sakit, untung saja masih ada keluarga nya dan juga Arga yang selalu membantu Dara bangkit dari kesedihan.
Beberapa
bulan setelah kejadian, melihat Dara yang seperti itu maka saudara-saudara yang
lainnya ingin mencari cara bagaimana agar Dara ini lepas dari kesedihannya yang
mendalam itu dan mereka sepakat untuk menikahkan Dara dan Arga dengan harapan
ada yang mendampingi Dara sehingga bisa mengurus dan menemani selama Dara sakit.
“Jadi ga setelah melihat
kondisi Dara yang seperti itu, kami selaku saudara-saudara nya Dara tidak tega
melihat Dara seperti itu dan kami menyarankan untuk kalian agar menikah saja
dengan begitu akan ada yang menemani Dara selama ia sakit ini, apakah kamu
bersedia?”
“Hmm Arga sih gapapa kak,
kita juga udah yakin sama hubungan kita namun hal ini harus Arga bicarakan lagi
dengan keluarga Arga kak”
“Ohh ya itu harus dong
haha, kalau begitu kita urus pernikahan kalian bersama setelah kedua keluarga
sepakat dan membahas masalah ini secara Bersama”
“Siap kak”
Dan
hal ini pun mulai dibicarakan antara dua keluarga, dan setelah melalui
proses-proses itu keduanya sudah mau dan sepakat untuk menikah. Lamaran mulai
dilakukan, pertunangan juga dilakukan dan ya pada 6 September 2003 Kristofer
Argantara dan Kyara Dara Ayu resmi menikah di hadapan Tuhan, di gereja katolik
Santo Agustinus Senakin.
Dan
dalam waktu berpacaran 5 bulan Arga dan Dara pun resmi menikah, dengan umur
pacaran yang sesingkat itu bahkan kurang dari setahun kini hubungan kedua nya
masih berjalan dengan harmonis dan bahkan mempunyai tiga anak dimana terdiri
dari dua perempuan dan satu laki-laki.
-tamat-
Catatan : Saya
mendapat cerita ini berdasarkan sejarah atau kisah cinta yang dialami oleh
orang tua saya hingga menuju ke pernikahan.

Komentar
Posting Komentar