Maraknya DBD di Kalimantan Barat
Demam berdarah atau DBD adalah penyakit yang menular melalui nyamuk yang terjadi di daerah tropis dan subtropis di dunia. Gejala DBD yang umum adalah demam tinggi dan gejala seperti flu. Sementara itu, pada DBD yang parah, kondisi ini bisa menyebabkan pendarahan serius, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba (syok) dan bahkan kematian.
Penyebab DBD adalah virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui nyamuk Aedes aegypti. Ketika nyamuk tersebut menggigit manusia, virus masuk ke dalam tubuh manusia. Nyamuk Aedes aegypti umumnya berukuran kecil dengan tubuh berwarna hitam pekat, memiliki dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal pada kaki. Nyamuk ini aktif terutama pada pagi hingga sore hari, meskipun kadang-kadang mereka juga menggigit pada malam hari. Mereka lebih sering ditemukan di dalam rumah yang gelap dan sejuk dibandingkan di luar rumah yang panas.
Gejalanya adalah demam, ruam, serta nyeri otot dan sendi. Pada kasus yang parah terjadi pendarahan hebat dan syok, yang dapat membahayakan nyawa. Memiliki riwayat terinfeksi virus dengue sebelumnya juga meningkatkan risiko mengalami gejala yang lebih parah ketika terkena DBD. Usia di bawah 15 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi terkena demam dengue dan demam berdarah dengue.
Untuk mencegah DBD, beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan, seperti menguras tempat penampungan air, menutup wadah-wadah penampungan air, mengubur barang-barang bekas, menjaga kebersihan rumah, menggunakan lotion atau obat nyamuk, melakukan penyemprotan nyamuk atau fogging, menggunakan kelambu saat tidur, menggunakan kawat nyamuk pada ventilasi rumah, dan mengenakan pakaian tertutup serta pakaian berwarna terang. Vaksinasi dengue juga dapat dilakukan pada anak-anak berusia 9-16 tahun.
Karena Kalimantan Barat tergolong ke daerah yang tropis, dingin, adem, dan keasrian hutannya yang masih terjaga membuat Kalimantan Barat menjadi daerah yang rawan akan nyamuk Aedes aegypti. Buktinya banyak sekali orang-orang yang terkena DBD bahkan tak sedikit juga orang yang meninggal akibat DBD terutama anak-anak kecil yang cenderung sering bermain dimana saja seperti di tempat gelap, di dekat hutan, dan lainnya ditambah lagi keadaan fisik mereka yang belum sekuat orang dewasa sehingga menyebabkan anak-anak mudah sekali terjangkit DBD.
Disamping itu, terkait belum tersedianya pengobatan yang spesifik untuk penanggulangan DBD, maka diperlukan adanya upaya pencegahan dan manajemen vektor yang efektif oleh masyarakat luas.
Ditambah lagi di Kalimantan Barat sekarang sudah memasuki musim penghujan sehingga membuat menambah nya populasi nyamuk Aedes aegypti. Agar kita semua tidak terjangkit DBD alangkah baiknya untuk menutupi tampungan air di rumah, menggunakan lotion anti nyamuk, dan menghindari tempat-tempat yang gelap. Jika sudah terjangkit lebih baik untuk segera pergi ke dokter dan banyak minum air agar tidak dehidrasi.
Tren peningkatan kasus Demam Berdarah atau DBD mengalami peningkatan sejak Februari 2023. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat mencatat hingga September 2023 kasus akibat DBD mencapai 2.303. Angka ini bertambah 997 atau hampir seribu kasus dibanding sebulan lalu yaitu data per 11 Agustus 2023 yang masih 1.306 kasus DBD se-Kalbar.
Peran pemerintah juga sangat diperlukan di saat-saat seperti ini seperti mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan parit yang sudah kumuh dan penuh dengan sampah, memberi banyak penerangan matahari pada tempat-tempat yang sudah gelap dan tertutup oleh tumbuhan liar, mengedukasi masyarakat tentang bahayanya DBD serta cara mengatasinya, dan upaya pemerintah lainnya tentang DBD .

Komentar
Posting Komentar