Naskah drama "Merasa Terganggu"
NAMA
PEMERAN DAN SUTRADARA
Nama Anggota :
1. Alvin
Wijaya (1)
2. Auleri
Alexis (2)
3. B.
Desvany Randungan (3)
4. Danny
Auryn (5)
5. Erlando
Fernandes (9)
6. Febrianus
David Hendrawan (10)
7. Fiona
Leticia Ngantung (11)
8. Oktafiana
Tifa (22)
9. Steven
Nelsen (27)
10. Vlacida
Dhango Christeva (30)
Peran :
Pemeran Utama :
·
Papa : Erlando Fernanades
·
Mama : B. Desvany Randungan
·
Kakak : Vlacida Dhango Christeva
·
Adek : Alvin Wijaya
Pemeran Figuran :
·
Teman Kakak : Fiona Leticia Ngantung, Oktafiana Tifa, dan
Steven Nelsen
·
Teman Adek : Danny Auryn dan Febrianus
David Hendrawan
·
Pemabuk : Aulerio Alexis
·
Hantu : Aulerio Alexis dan Oktafiana Tifa
Cameraman dan Editing :
Aulerio Alexis
Sutradara :
Vlacida Dhango Christeva
Genre : Keluarga, Horror,
Pertemanan, Kenakalan Remaja.
Latar tempat :
Rumah dan Sekolah SMP Bruder Pontianak serta SMA Santo Paulus Pontianak
“MERASA
TERGANGGU”
Di kota Bandung ada
sebuah keluarga yang hidup dengan nyaman karena kerja keras mereka, terutama
papa dan mama nya yang berjuang penuh demi mendapatkan kehidupan yang layak
bagi anak-anaknya. Mama yang tidak pernah mengeluh dalam semua pekerjaan
rumahnya dari membersihkan rumah hingga mengurus suami dan anak-anaknya. Dan
papa juga yang tidak pernah mengeluh untuk mencari nafkah bagi keluarganya,
namun karena pekerjaanya yang dipindahkan ke luar kota mengharuskan mereka
sekeluarga untuk pindah ke sebuah kota yang bernama ‘Kota Pontianak” dan hal
itu disetujui oleh seluruh anggota keluarganya.
Setelah tiba di Kota
Pontianak papa sudah membeli sebuah rumah yang disarankan oleh temannya, namun
karena kepindahan yang terburu-buru itu membuatnya tidak bisa mengecek rumah
itu secara detail, dan selama mereka tinggal dirumah itu, disitulah mereka
mulai merasakan hal-hal yang menjanggal dan sangat mengganggu kenyamanan
mereka. Hal itu disebabkan karena ada sesosok makhluk yang merasa terganggu
dengan kedatangan keluarga ini, dan hal ini juga disebabkan oleh banyak
perlakuan dari mereka yang mengganggu kenyamanan dari sesosok makhluk yang
memang sudah lama mendiami dan menjaga rumah tersebut.
Papa mempunyai watak yang
keras, ia mendidik anak-anaknya dengan sangat ketat karena semasa muda ia
pernah masuk ke jurang yang membuatnya merasa sangat menyesal karena masuk ke
dalam pergaulan bebas. Maka dari itu ia mendidik anak-anaknya dengan sangat
ketat sehingga ia tak menyadari bahwa perbuatannya itu ternyata yang malah
membawa anak-anaknya masuk ke jurang yang sama dengan apa yang ia lalui,
anak-anaknya yang ia didik sedemikian keras agar menghindari hal-hal buruk
ternyata sudah melakukan hal-hal yang diluar dugaannya. Anak-anaknya sudah
terpengaruhi pergaulan bebas tanpa sepengetahuannya.
Bagaimanakah akhir dari permasalahan keluarga ini yang menghadapi gangguan dari sesosok makluk itu dan masalah keluarga nya yang tentang terlalu mengekang anak-anaknya?
Di suatu pagi yang indah di kota Bandung, ada sebuah keluarga sedang makan pagi bersama sebelum melakukan aktivitas mereka sambil dengan sedikit berbincang-bincang.
Papa: Gimana kabar sekolah kamu alvin ada perkembangan
tidak?
Alvin: Ya begitu begitu saja pa.
Papa: Papa dengar-dengar kemarin kamu ulangan harian
lagi.
Papa: Coba perlihatkan ke papa hasil nya.
Alvin: Ini pak hasil ulangan aku kemarin. (dengan nada
lesu)
Papa: Jelek lagi! jelek lagi! jelek lagi! sudah berapa kali papa bilang belajar! Belajar!
jangan main mulu, liat kakak mu itu dia belajar dengan giat.
Alvin: Aku sudah belajar dengan giat pa, dari pagi ke
pagi aku selalu membaca buku tetapi sama aja
Papa: Emang anak yang bodoh, kakak mu saja bisa
mendapatkan nilai yang bagus
Papa: Mau kemana kamu, papa belum selesai bicara
dengan mu.(Nada bicara papa semakin keras)
Mama: Sudahlah pa biarkan saja, jangan selalu membandingkan anak-anakmu pa.
Alvin tidak menghiraukan perkataan papa nya itu dan langsung berangkat ke sekolah.
Alvin: Aku pergi dulu ma pa.
Teva: Bentar dek tunggu kakak. Aku pergi dulu ma pa. (sambil salim kepada mama dan papa nya)
Pada saat di perjalanan menuju sekolah.
Alvin: Kak, kenapa ya aku selalu dibanding-banding kan
dengan kakak?
Teva: Sudah gapapa, belajar yang giat lagi aja ya dek.
Semangat.
Alvin: Iya kak.
Sesampainya disekolah, mereka terpisah karena alvin yang masih SMP dan kakaknya sudah SMA. Alvin yang terlihat lesu, disamperin oleh teman temannya dan mereka bertanya kepada dia.
Hendra: Vin, napa kau hari ini nampak lesu terus?
Danny: Iya vin, ada masalah kah atau apa? cerita lah
siapa tau kami bise bantu kau juga.
Alvin: Gak ada kok, aku nampak seperti biasa aja.
Aurelio: Mana ada, kau nampak tak semangat gitu hari
ini.
Hendra: Iya, kenapa lah cerita tipis" boleh tu
(sambil ketawa)
Alvin: Ndak ada bah, aman aja.
Danny: Yaudah deh kalau gitu, semangat bro.
Alvin : Yoi makasih dan
Di sisi lain, kakak dari Alvin yaitu Teva pun nampak lesu dan ditanya oleh teman temannya
Fiona: Weh tep, napa bengong ni tak kebiasa yang heboh.
Teva: Ndak ada apa apa.
Fiona: Oalah, nampak lesu kau ni, cerita jak kalau ada
apa apa.
Teva: Ndak ada cuma ngantuk gitu jaak.
Fiona: Tev, coba rokok dak katenye bisa menghilangkan
stress.
Teva: Eeee. (dengan nada ragu ragu)
Fiona: Balek sekolah ye aku tunggu.
Teva: Ye lah .
Sesampainya mereka di warung, mereka berdua pun duduk sambil sedikit berbincang.
Teva: Beneran kau mau rokok ni Fio? Kau cewe loh masa
merokok.
Fiona: Tak pape, coba jak sekali sekali.
Teva: Serah kau la.
Fiona: Enak kan haha.
Teva : Yaa not bad la.
Teva: Dah yok balek agik, makin sore dah .
Fiona: Yoklah balek.
Mereka pun pulang ke rumah masing masing dan pada saat teva mengetok pintu, adik nya keluar untuk membuka pintu .
Teva: Aku pulang.
Alvin: Apa bau rokok badan kau ni kak?
Teva: Mana ada.
Teva: Ohhh, tadi kwn ku ngerokok samping ku, jadi aku
kena asap nya.
Alvin: Ohh gitu, aku kira kau ngerokok.
Teva: Ndak lah yakalii.
Pada saat mama menyiapkan makan malam, papa baru saja pulang kerja.
Papa: Papa pulangg.
Mama: Eh papa, langsung mandi ya pa lalu langsung ke
meja makan buat makan bersama.
Papa: Siapp ma.
Papa pun langsung pergi untuk membersihkan diri nya.
Setelah menyiapkan makan malam mereka, Mama memanggil semua anggota keluarga nya untuk makan bersama.
Mama: Pa.., kakak, adek ayo udah saatnya makan malam.
Mereka serentak menjawab iya.
Papa: Gimana sekolah kalian? Papa mau blg klo papa
dipindah tugaskan ke luar kota jadi kalian harus pindah sekolah juga.
Alvin dan Teva: Hah (dengan nada yang sangat kaget)
Mama: Sebenarnya hal ini sudah ingin mama bilang
kepada kalian cuma mama takut kalian tidak mau mengikuti kami.
Papa: Iya nak, gimana kalian pasti mau ikut dengan
kami ke luar kota kan?
Alvin: Iya pa, mau gimana lagi soalnya ini demi tugas
kerja papa. Jadi kami mengikuti saja.
Mama: Gimana dengan kamu teva?
Teva: Iya deh ma pa, aku akan ikut.
Papa: Makasih ya nak udah mau ngertiin papa.
Mereka pun mensantap makan malam dengan gembira.
Besok paginya, mereka masih sekolah seperti biasa. Alvin dan Teva pun mengucapkan selamat tinggal kepada teman temannya.
Pada siang hari nya, papa nya bilang kepada mereka.
Papa: Untuk surat pindah sekolah nya sudah papa yang
urus jadinya kalian langsung beres beres saja ya.
Alvin dan Teva: Iya pa.
Mereka pun tidur karena besok paginya mereka akan
berangkat ke rumah barunya tersebut.
Setelah beberapa jam di perjalanan akhirnya mereka
sampai di Pontianak, lalu mereka langsung sekalian untuk pergi makan diluar
karena rumah barunya masih belum mempunyai stok makanan, dan setelah itu mereka
langsung menuju rumah barunya.
Sesampai dirumah barunya mereka langsung masuk dan
mengemaskan barangnya agar bisa langsung beristirahat.
Setelah selesai mama pun ikut masuk ke kamar untuk beristirahat namun sblm itu ia mengobrol ringan bersama suami nya.
Mama: Pa, papa dapat rumah ini dari mana?
Papa : Direkomendasiin temennya papa ma. Emangnya
kenapa?
Mama: Hmm ngga sih, mama cuma ngerasa ada yang aneh
aja.
Papa: Itu cuma perasaan mama aja kali.
Mama: Iyadehh klo gitu ayo kita tidur kan bsk papa msih harus kerja.
Keesokkan harinya mereka kembali melakukan aktivitas seperti biasanya, papa yang sudah mulai bekerja di kantor barunya, mama yang memebereskan rumah barunya, dan anak-anaknya masuk ke sekolah baru untuk pertama kaliya. Dan hal itu berjalan dengan lancar selama beberapa hari tetapi sebenarnya ketika mama sedang membereskan rumah baru mereka tidak jarang mama melihat sekelebat hitam yang berlewatan namun mama membiarkan hal tersebut justru meminta ijin kepada sesosok itu”untuk hidup berdampingan dan bersama-sama menjaga rumah itu, sesosok itu sengaja menampakkan dirinya kepada mama saja karena hanya mama saja yang sangat sensitive dengan hal yang berbau makhluk lain karena keluarga nya yang lain tidak pernah melihat hal-hal aneh adri rumah itu. Dan setelah mama meminta ijin itu sosok itu tidak lagi menampakkan dirinya dan mereka merasa nyaman dengan rumah baru itu.
Namun kenyamanan itu berhenti ketika kakak melakukan kesalahan sampai sebanyak 3 kali, bahkan kejadian-kejadian aneh itu selalu terjadi jika ada hal yang berhubungan dengan tiga kali. Sebernarnya kebiasaan kakak sudah biasa ia lakukan ketika berada di Bandung namun ternyata hal itu justru tidak boleh dilakukan di kota ini.
Kakak ; Ma, perut kakak kok sakit banget ya?
Mama : Kakak habis makan apa?
Kakak : Gak ada yang aneh kok ma, kakak cuma makan
masakan yang mama buat.
Kakak : Eh tapi kayaknya karna kakak datang bulan deh
ma.
Mama : Kakak udah lama datang bulannya?
Kakak : Udah 3 hari sih ma, emangnya kenapa ma?
Mama : Pembalutnya kakak cuci kan?
Kakak : Nggak ma langsung kakak buang kan biasanya
juga gitu.
Mama : Astaga kakk!! Kita ini lagi di tempat baru
jangan melakukan hal-hal yang bisa membuat mereka merasa tergangggu
Kakak : Kakak gak tau ma
Mama : Yaudah gak papa, selanjutnya bersihkan ya!
Kaka : Iya ma.
Setelah itu mama meminta maaf kepada sesosok yang ada
di rumah itu dengan berbicara di dalam hatinya, dan beberapa hari kemudian
kehidupan mereka berjalan dengan lancar mama kira sudah baik-baik saja ternyata
tidak sampai disitu saja.
Setelah beberapa hari kakak dan adek bersekolah di sekolah barunya mereka sudah mendapatkan beberapa teman. Dan kakak mendapatkan tugas kelompok untuk pertama kalinya dan karena itu teman-teman sekelompoknya mengajak untuk kerja kelompok dirumah si kakak.
Fiona : Wuihhh bagus rumah kau tev
Teva : Haha makasih fio
Okta : (Kok rumah ni hawanya ndak enak ya) katanya
dakam hati
Teva : Aku siapkan minuman lok yaa
Fiona : Eh aku sekalian mau numpang wc
Teva : yoklah sini ikut aku.
Disaat Teva dan Fiona ada di dapur hanya tersisa Okta yang diruang tamu dan karena itu ia ingin menyusul teman-temannya namun ketika akan ke dapur ia melewati lorong yang terhubung ke garasi, ntah mengapa ia merasa dipanggil dari lorong itu dan tanpa ia sadar ia berjalan masuk ke dalam lorong itu. ketika sudah sampai ia hanya melihat garasi dan kolam namun ketika melihat kea rah kolam ia melihat tirai dari jendela yang di dekat kolam seperti terkibar dan menampakkan sesosok wajah namun hal itu tidak jelas dan ia pun ingin mendekat namun sebelum ia benar-benar sampai di jendela itu bahunya di tepuk oleh Teva yang membuatnya terkejut
Teva : Okta! Kau ngapain?
Okta : Eh astaga kaget aku, aku Cuma liat kolam nya
jak
Teva : Ohh, yok kita mulai kerjakan tugasnyaa
Okta : Okee.
Ketika mereka sudah selesai mengerjakan tugasnya mereka bercerita sedikit-sedikit dan yang mereka ceritakan adalah cerita-cerita horror, dan saat itu banyak hal aneh yang terjadi dirumah itu.
Beberapa hari kemudian ada banyak sekali hal-hal aneh
yng terjadi dirumah mereka, dimulai dari kamar kosong yang berbunyi,
bayangan-bayangan yang selalu terlihat, bunyi-bunyi aneh, bahkan yang paling
parah adalah kakak yang menjadi sakit-sakitan dengan sangat parah. Dan karena
itu mereka menanyakan kepada orang yang disebut dengan ‘orang pintar’ tentang
apa yang terjadi dengan rumah itu dan ternyata ya, semua kejadian aneh itu terpancing
karena kesalahan yang kakak buat.
Meskipun sudah di doakan dan dibersihkan, hal-hal yang
mengganggu kenyamanan mereka itu justru lebih sering terjadi bahkan semakin
parah sehingga mereka sudah tidak kuat lagi, apalagi memikirkan kondisi kakak
yang semakin parah baik fisik maupun mentalnya.
Maka dari itu mereka memutuskan untuk pindah dari
rumah itu, dan lebih memilih rumah yang sudah pasti asal-usulnya. Sebelum
pindah pun mereka sudah membersihkan diri mereka dan pastinya meminta maaf
kepada sesosok yang menjaga rumh itu karena telah merusak tempatnya dengan
mengotorinnya.
Dan setelah pindah mereka mulai merasakan kehidupan
yang normal kembali tetapi masih di kota yang sama, hanya pindah rumah saja.
Dan kehidupan keluarga mereka juga menjadi lebih baik karena semuanya mulai
terbuka, anak-anaknya yang menurut dengan orang tua nya dan ayahnya yang sudah
tidak mengekang mereka lagi.
Tamat

Komentar
Posting Komentar